Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Keuangan meminta ekonom senior Rizal Ramli (RR) untuk lebih bijak dalam menyebarluaskan infomasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Nufransa Wira Sakti dalam laman media sosial yang dipantau di Jakarta, Selasa.

“Ada baiknya Pak RR membaca secara perlahan-lahan dan memahami dengan bijak sebelum menyebarkan suatu informasi. Apalagi dengan mengatasnamakan rakyat,” ujarnya. 

Tanggapan Nufransa tersebut bermula dari cuitan di akun twitter Rizal Ramli yang menyatakan bahwa Indonesia akan menerbitkan surat utang dua miliar dolar AS dengan imbal hasil sangat tinggi 11,625 persen.

Beberapa media sudah memberitakan cuitan yang diakhiri dengan kalimat “Kreditor Pesta Pora, Rakyat Semakin Terbebani. Menkeu Semakin Ngawur.”

Setelah melalui proses diskusi dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko bersama tim maka terdapat klarifikasi bahwa cuitan tersebut tidak akurat.

Penerbitan obligasi pemerintah yang dimaksud adalah surat utang berdonimasi dolar AS yang diterbitkan pada tahun 2009, ketika terjadi krisis keuangan, sehingga imbal hasil yang diberikan 11,625 persen.

Surat utang tersebut akan berakhir dan jatuh tempo pada bulan Maret 2019 sehingga sesungguhnya tidak ada penerbitan utang baru dengan imbal hasil yang tinggi. 

Saat ini imbal hasil di pasar sekunder untuk surat utang pemerintah berdenominasi dolar AS dengan tenor 10 tahun adalah sebesar 4,24 persen. “Jadi semua yang dinyatakan Pak RR adalah kesalahan dia dalam membaca data,” kata Nufransa.

Dalam cuitan berikutnya, Rizal Ramli sudah mengakui kesalahan bahwa imbal hasil 11,625 persen merupakan imbal hasil dari surat utang lama.

“Jadi yang sebenarnya ‘ngawur’ adalah pernyataan RR, tapi yang dituduh Menkeu dan juga mengatasnamakan rakyat yang terbebani. Rakyat yang mana?” tambah Nufransa.

Nufransa menegaskan para pegawai Kementerian Keuangan akan terus bekerja secara profesional dalam menjaga keuangan negara.
 

Pewarta: Satyagraha
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019